21April_wahyudi
beljar ngeblog yuk.............. lumayan tuk bljr smbl bermain
notice
Rabu, 19 Oktober 2011
Rabu, 12 Oktober 2011
MENGANALISIS CERPEN
INI ADALH HASIL ANALISIS CERPEN YANG BERJUDUL " AKU MENCINTAI MU DENGAN SEDERHANA
mudah-mudahan dapt bermanfaat bagi kalian semua.......................
mudah-mudahan dapt bermanfaat bagi kalian semua.......................
Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana
Aku memandang kalender yang
terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun
perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang
tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan
beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang
berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan
saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar
kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah
minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik,
toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan
tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah
pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat
aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang
ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak
kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat
hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda
dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah
ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar
kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan
romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang
tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap
minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya,
bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari
cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai
Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masa sih orang tidak mau berubah
dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah,
pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku
uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai
menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga
tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami
sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir
setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat
tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi.
Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua
sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing
membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah
tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah
mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini
dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi,
begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada
akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia
tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima
lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak
romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu
tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi
enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan.
Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma
senyum senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima
lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak
senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa
melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal
pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!”
Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku
yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah
lebih dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah
perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru,
Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya
berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam
seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias
sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil
terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya
untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti
dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai
puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu
jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam
untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas
smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut
perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas
kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal.
Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk
pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan
Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang
tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya
aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku
kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen,
mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga
kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik.
Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras.
Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat
kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang
dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa
yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun
perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya
waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah
tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun
dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya,
sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat
tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku
untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku
untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal
kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita
denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’
tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan
mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi
dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa
uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah.
Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu
benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru
dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres
karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya?
Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di
beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul
dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini,
mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur
jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi
dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya,
bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena
kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku
bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang
romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan
untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku
menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja
makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam
sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku
belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku
tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya
Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat
mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan
kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan
kaos kakinya. Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku
tersenyum.
Akhirnnya aku sadar bahwa Aa’
mencintaiku dengan sederhana dan tidak bisa
banyak meluangkan waktu dengan aku….tetapi sebenarnnya ia sangat
mencintai aku.
….Puisi….
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Unsur Intrinsik dari cerpen yang berjudul
“Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana“
diatas adalah sebagai berikut:
1.
Tema dalam cerita tersebut ialah tentang
seorang suami yang mencintai istrinya dengan “sederhana”.
2.
Tokoh dan Penokohan
a.
Hen, tokoh utama dalam cerpen ini yang dijadikan sudut
pandang penulis merupakan tokoh yang memiliki watak,:
Romantis,terlihat
pada kutipan perkataannya, ” Aku selalu
memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga
tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim
pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus
diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta. Aku tahu,
kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masa sih
orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk
bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak
menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di
mataku. Aku mulai menghitung-hitung
waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan
kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang
biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri
hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di
tempat tidur.”
Keras kepala,
terlihat pada kutipan sebagai berikut.
”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masa Ulang
tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak
punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot
rumah tangga yang hanya perlu
ditengok sekali-sekali.”
b.
Ridwan, adalah
tokoh pendamping dalam cerita tersebut yang merupakan suami yang memiliki watak
:
Tidak romantis,
dilihat dari kutipan berikut, “Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya
membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku,
dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah
membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…” dan
“Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena
harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar
mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan
kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku
menarik napas panjang.”
Kerja keras dilihat dari kutipan berikut, “pagi-pagi ia
sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar
mandi.”
Setia dilihat dari
kutipan berikut, ”Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya.
Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan
wanitanya di kantor. Aa’ tidak
pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya
kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool
seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.”
Baik dilihat dari
kutipan berikut, “Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas
wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu
berbaik sangka kepada orang lain”
c.
Ibu, merupakan ibunda dari Hen dan memiliki watak:
Bijaksana dan suka memberi
nasehat dilihat pada kutipan berikut, “Walau awalnya tersendat, akhirnya
aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca- kaca.
Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ‘Hen,
mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang
terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik.
Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat
kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti
dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!’ Kata Ibu.”
d.
Diah adalah tokoh pembantu dalam cerita tersebut, Diah
adalah teman dekat dari Hen sekaligus Adik ipar dari Hen. Diah mimiliki watak:
Baik dan suka menasehati yang mana ada pada kutipan
sebagai berikut, ”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah
sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti
suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang
hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya,
hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan
kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum senyum saja saat itu.
Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
3.
Latar/ Setting
Di ruang makan dilihat dari kutipan sebagai
berikut, ” Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap
dengan rangkaian mawar merah dimeja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang.
Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf
aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin.
Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu. Aku terbangun
dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku
bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu
ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum
membuka dasi dan kaos kakinya.”
Di kamar dilihat dari kutipan sebagai berikut,
“Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat
samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.”
Di kamar mandi dilihat dari kutipan sebagai
berikut, “Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan
beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi.”
Di kamar tidur dilihat dari kutipan sebagai
berikut, “semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan
segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang
tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm,
oh, begitu ya… Itupun sambil
terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam- jam menunggunya
untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan”.
4.
Alur/ Plot
Alur/ Plot di dalam cerita tersebut ialah Alur gabungan yang man memuat alur mundur dan
alur maju.
Pada awal cerita terdapat alur maju dilihat dari kutipan
teks sebagai berikut” Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan
kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga.”
Namun alur mundur terlihat pada kutipan “Dan untuk
ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat
dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan.
Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah
tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik. Ulang
tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya
membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku,
dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang
tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh
upacara…” dan “Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak
masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan
aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera
berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak
ada waktu yang tersisa untukku.”
Setelah itu cerita beralur maju kembali terlihat pada
kutipan, “Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan
rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak
memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.”
Dan seterusnya beralur maju.
5.
Amanat/ Pesan
Amanat dalam cerita yang bertema “Aku mencintai mu dengan
sederhana” ini adalah “janganlah kita berprasangka buruk dahulu kepada orang
lain karena belum tentu kebenarannya.”
6.
Sudut Pandang/ Point
of View
Sudut Pandang/ Point
of View di dalam cerita tersebut adalah sudut pandang orang pertama karena
penulis menggunakan kata “aku” dalam menceritakan tokoh utama pada cerpen
ini. Beberapa kutipan yang menengaskan
tentang sudut pandang orang pertama ini.
a.
“Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan
kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan
untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa.”
b.
“Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya
apa adanya. Tetapi, masa sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku
sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik.”
c.
“Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk
membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah.”
7.
Konflik/ Permasalahan
a. Permasalahan
baru dilihat dari kutipan cerita ialah “Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena
harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan
perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan
masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.”
Ulang tahun
kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya
membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan
kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun.
Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”
Aku tahu, kalau
aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masa sih orang
tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap
lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak
menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di
mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya
kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai.
Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang
biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri
hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di
tempat tidur.”
b. Permasalahan
mumuncak dilihat dari kutipan cerita berikut, “Jadilah aku manyun sendiri
hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di
tempat tidur.
Rasa kesalku
semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik.
Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami
masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan
mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu
ini.
c. Puncak
permasalahn ( klimaks) dilihat dari kutipan cerita berikut, “Tetapi pagi ini,
kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu.
Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima
jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan.
Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat,
presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku. Aku
langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku.
Kuhempaskan tubuhku dengan kesal.”
d. Permasalahan
menurun ( Anti klimak) yang mana dilihat dari kutipan cerita berikut, ”Kenapa Hen?
Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku
mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak
dengan jitu. Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu.
Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum
mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan
Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan
sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami
yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama
kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua
suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!”
Kata Ibu. ”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan
Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…”
Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu.
Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur.
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku.”
e. Penyelesain
permasalah tersebut dilihat dari kutipan cerita berikut, “Aku segera pamit
kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan
malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat
kejutan untuknya.”
Aku terbangun
dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku
bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu
ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum
membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu
ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum. Akhirnnya aku sadar
bahwa Aa’ mencintaiku dengan sederhana dan tidak bisa banyak meluangkan waktu dengan aku….tetapi
sebenarnnya ia sangat mencintai aku.
SINOPSIS
Cerpen
berjudul “Aku Mencintai Mu Dengan Sederhana” adalah cerpen yang berceritakan
tentang sebuah rumah tangga yang mana di
dalam rumah tangga tersebut ada istri yang bernama Hen dimana sang istri
tersebut memiliki watak yang romantis dan berprinsip bahwa rasa cinta itu harus
diungkapkan baik dengan perkataan maupun dengan tindakan yang mewakili
perasaan. Sedangkan sang suami yang bernama Ridwan yang sibuk dan lebih mementingkan pekerjaan, dia
beranggapan bahwa ungkapan cinta itu tidak harus lewat perkataan dan cara yang
romantis, cinta itu cukup dengan tindakan bahwa setia dan saling menyayangi.
Cerita ini
dimulai saat tokoh utama (Hen) mulai merajuk karena sikap suami yang dingin
terhadapnya, dia menganggap suami tidak perhatian karena sudah dua kali si
suami tidak ingat ulang tahun perkawinannya, dan hari ini ulang tahun
perkawinannya yang ketiga tetapi si suami tidak juga menampakan perlakuan
berbeda pada hari ini. Si suami masih sibuk dengan pekerjaannya.
Hari ini si
istri berniat untuk kerumah orang tuany, setelah mendapatkan izin suami lewat
sms yang balasannya di tunggu sampai 1 jam. Sesampai di rumah ibunya si istri
berkonsultasi dengan ibunya, dia menceritakan bahwa suaminya tidak perhatian
dan hanya memikirkan pekerjaan. Si ibu yang bijaksana tahu tentang kondisi
sebenarnya, tahu bahwa si suami adalah seorang suami yang baik, setia, sholeh,
dan pekerja keras. Si ibu mengatakan bahwa si istrilah yang kurang bersyukur
mendapatkan seorang suami seperti Ridwan karena banyak pengalaman yang
mengatakan tidak semua suami sebaik Ridwan. Akhirnya si istri sadar akan
kekeliruannya.
Dia pulang
dan menyiapkan masakan kesukaan untuk si suami dengan harapan dapat merayakan
hari ulang tahun perkawinan mereka. Walaupun akhirnya si suami baru pulang
kerumah telah larut malam jam 11 malam.
Si istri yang sudah tertidur duluan terbangun dan melihat suaminya telah
pulang dan tertidur pulas di karpet. Si istri bahagia sekali ketika menemukan
seikat mawar merah dan kartu ucapan serta kotak perhiasan mungil di atas meja.
Sambil tersenyum dia membaca tulisan yang tertera pada kartu ucapan tersebut.
Akhirnnya si
istri sadar bahwa suaminya mencintainya dengan sederhana dan tidak bisa banyak meluangkan waktu dengan si
istri….tetapi sebenarnnya ia sangat mencintai si istri.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Langganan:
Postingan (Atom)